Efek Negatif Tidur dengan Hewan Peliharaan

Published November 5, 2011 by Kania Sekar Asih

metronews.com

Bermain-main dengan hewan peliharaan seperti anjing atau kucing memang menyenangkan, terutama jika hewan-hewan ini bersih dan lucu. Tapi bagaimana bila mengajak mereka bermain atau tidur bersama di tempat tidur?

Jika Anda ingin mengajak hewan-hewan imut ini bermain dan tidur bersama di tempat tidur, sebaiknya dipikir-pikir dulu. Pasalnya, laporan yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases menyebutkan hewan peliharaan yang tampaknya sehat pun dapat membawa parasit, bakteri atau virus, yang dapat menyebabkan penyakit ringan hingga yang membahayakan manusia.

Dari 250 penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia – lebih dari 100 penyakit berasal dari hewan peliharaan, kata dokter hewan Dr. Bruno Chomel, penulis studi dan profesor zoonosis di University of California School of Veterinary Medicine di Davis.

Walaupun penularan penyakit rendah dibandingkan dengan berapa banyak orang yang tidur dengan binatang peliharaan mereka, tapi Chomel mengatakan bahwa risiko itu tetap ada. “Mengajak hewan peliharaan bermain dan tidur di tempat tidur bukanlah ide yang baik,” katanya.

Dalam satu kasus, seorang pria 69 tahun tidur bersama anjingnya dan pada satu kesempatan anjingnya menjilat luka bekas operasi pinggul si majikan, dan setelah itu pria tersebut terkena meningitis. Insiden lain melibatkan seorang anak 9 tahun yang mendapat wabah penyakit, infeksi bakteri berpotensi mematikan, dari kutu yang ditularkan saat tidur bersama kucingnya.

Infeksi lain yang ditularkan kepada manusia setelah tidur dengan kucing atau anjing mereka, yang berasal dari ciuman atau jilatan hewan peliharaan, meliputi penyakit cacing kait, cacing cincin, cacing bulat, penyakit akibat cakaran kucing dan infeksi staph yang kebal terhadap obat.

Meski orang perlu menyadari bahwa ada kemungkinan tertular penyakit yang berasal dari binatang peliharaan, namun manfaat kesehatan dari memiliki hewan peliharaan jauh lebih besar daripada risikonya, kata Dr. Peter Rabinowitz dari Yale School of Medicine, yang juga salah satu penulis buku bertajuk Human-Animal Medicine: Clinical Approaches to Zoonoses, Toxicants and Other Shared Health Risks.

Penelitian telah menunjukkan bahwa selain memberikan dukungan psikologis dan persahabatan, binatang peliharaan dapat membantu menurunkan tekanan darah, meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi stres dan mendorong semangat pemiliknya.

Namun, kata dia, orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah berisiko tinggi mendapatkan infeksi dari binatang. Mereka ini meliputi orang tua, anak-anak kurang dari 5 tahun, orang dengan HIV/AIDS dan penderita kanker.

Pemilik bisa tetap sehat dengan melatih kebiasaan menjaga kebersihan dengan baik, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air panas setelah menangani hewan peliharaan, terutama anjing, kucing atau kucing atau anjing yang diare. Hewan peliharaan yang “berisiko tinggi” ini lebih memungkinkan menularkan infeksi kepada manusia. Selain itu, segera cuci daerah atau tempat yang pernah dijilat oleh binatang peliharaan.

Untuk mencegah munculnya penyakit lebih dini, upayakan hewan peliharaan bebas dari kutu dan cacing, dan secara rutin memeriksakan mereka ke dokter hewan. Dan yang tak kalah penting adalah menghindari diri untuk tidak mencium kucing atau anjing dan berbagi tempat tidur dengan hewan peliharaan. (Ant/ICH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: